
“Mungkin, menjadi tenang bukan tentang menghilangkan rasa pahit, tetapi tentang belajar membiarkannya menjadi bagian dari rasa.”
Ada sesuatu yang menarik dari matcha.
Ia bukan sekadar minuman sederhana. Warnanya hijau mencolok, bahkan sedikit nyentrik. Namun ketika diminum, ada sesuatu yang membuat jantung berdegup sedikit lebih cepat.
Matcha juga terasa sedikit lebih ‘ritualistik’ dibandingkan secangkir kopi.
Ada proses di dalamnya. Bubuknya harus diayak terlebih dahulu. Airnya harus berada pada suhu yang tepat. Setelah itu, semuanya dikocok perlahan hingga akhirnya menyatu.
Mungkin manusia juga demikian.
Kita pun dibentuk melalui sebuah proses yang hampir seperti ritual.
Lahiriah namanya.
Dulu kita pernah menjadi anak-anak. Kita pernah harus belajar. Kita pernah perlu diarahkan, bahkan terkadang dipaksa untuk berubah.
Kita membutuhkan waktu.
Ada bagian dari diri kita yang harus berantakan terlebih dahulu sebelum kita benar-benar memahami siapa diri kita.
Ada kegagalan yang mengajarkan kita untuk menjadi lebih berhati-hati.
Ada perpisahan yang mengajarkan bahwa tidak semua orang memang ditakdirkan untuk tinggal.
Matcha tidak menjadi bubuk hijau indah yang kita kenal dalam semalam.
Daun teh melewati proses pemanasan, pengeringan, hingga penggilingan. Bentuk aslinya harus hilang sebelum ia dapat berubah menjadi sesuatu yang baru.
Dan ada satu hal lain yang saya sukai dari matcha:
Ia tidak berusaha menyembunyikan rasa pahitnya.
Matcha tetap pahit.
Ia tidak membutuhkan terlalu banyak gula hanya untuk meyakinkan kita bahwa rasa pahit itu sebenarnya tidak ada.
Manusia sering kali berbeda.
Kita menghabiskan begitu banyak waktu untuk membuat hidup terlihat lebih manis daripada kenyataannya.
Kita membagikan pencapaian, tetapi menyembunyikan keraguan.
Kita mengatakan, “Aku baik-bai saja,” ketika sebenarnya tidak.
Kita tersenyum di dalam foto, sementara masih ada begitu banyak hal yang belum selesai di dalam kepala.
Mungkin karena kita takut.
Takut jika orang lain melihat sisi pahit dalam diri kita, mereka akan berpikir ada sesuatu yang salah dengan kita.
Padahal, bukankah menjadi manusia berarti tidak pernah benar-benar baik-baik saja sepanjang waktu?
Mungkin, seperti matcha, kita tidak harus menghilangkan seluruh rasa pahit dalam hidup untuk menjadi sesuatu yang layak dinikmati.
Ada sesuatu yang juga begitu sederhana dari cara matcha dibuat:
Air.
Tidak terlalu panas.
Tidak terlalu dingin.
Jika terlalu panas, rasanya dapat menjadi terlalu pahit. Jika kurang hangat, bubuk matcha tidak akan tercampur dengan baik.
Rasanya seperti sebuah pengingat kecil bahwa segala sesuatu memiliki waktunya sendiri.
Kita sering kali terlalu terburu-buru dalam menjalani hidup.
Ingin cepat lulus.
Cepat mendapatkan pekerjaan.
Cepat sukses.
Cepat mencapai sesuatu yang bisa kita tunjukkan kepada orang lain sebagai bukti bahwa hidup kita berjalan dengan baik.
Seolah-olah hidup adalah sebuah perlombaan, dan terlambat berarti gagal.
Padahal, mungkin tidak semua hal memang perlu dilakukan dengan terburu-buru.
Ada hal-hal yang memang membutuhkan waktu.
Ada mimpi yang harus tumbuh perlahan.
Ada luka yang tidak bisa sembuh hanya karena kita menginginkannya.
Ada versi diri kita yang belum bisa kita temui hari ini, tetapi mungkin akan kita temui beberapa tahun lagi.
Kemudian ada proses mengaduk matcha.
Gerakannya berulang.
Pelan, tetapi konsisten.
Sampai akhirnya bubuk yang semula terpisah perlahan menyatu dengan air.
Saya pikir manusia juga seperti itu.
Kita tidak menjadi diri kita sekarang hanya karena satu peristiwa besar.
Kita dibentuk oleh hal-hal kecil yang kita lakukan berulang kali.
Dari bagaimana kita memperlakukan orang lain.
Dari bagaimana kita menghadapi kegagalan.
Dari bagaimana kita bangkit setelah menjalani hari yang buruk.
Dari bagaimana kita memilih untuk tetap mencoba, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Sedikit demi sedikit.
Hari demi hari.
Mungkin itulah alasan saya menyukai matcha.
Bukan karena rasanya selalu enak.
Justru karena rasanya tidak selalu enak.
Ada rasa pahit di dalamnya.
Ada proses panjang di belakangnya.
Ada ketidaksempurnaan.
Namun ketika semuanya dilakukan dengan cukup sabar, rasa pahit itu tidak lagi terasa seperti sesuatu yang harus kita lawan.
Ia hanya menjadi bagian dari rasa.
Mungkin hidup juga demikian.
Kita mungkin tidak perlu menjadi seseorang yang sepenuhnya bebas dari kegagalan, keraguan, kesedihan, atau rasa pahit.
Mungkin kita hanya perlu belajar menerimanya sebagai bagian dari proses menjadi diri kita sendiri.
Karena pada akhirnya, ketenangan bukan selalu tentang memiliki hidup yang sempurna.
Terkadang, ketenangan adalah ketika kita berhenti memaksa hidup untuk terasa manis.
Kita menerima bahwa ada yang pahit.
Ada yang belum selesai.
Ada yang hilang.
Ada yang tidak berjalan sesuai rencana.
Dan kita tetap memilih untuk melanjutkan hidup.
Perlahan.
Dengan sabar.
Sedikit demi sedikit.
Mungkin, kita juga masih sedang diseduh.